Kamis, 20 Mei 2010

CERPEN PRIBADI

BAHAN KIMIA DALAM RUMAH TANGGA

PENYESALAN NILA

Ada seorang siswi yang bernama Alfira Nilani yang merenungi dirinya sendiri di taman sekolahnya tanpa ditemani siapapun.Ia sedang merenungi dirinya betapa bodohnya dirinya terhadap kehidupannya sendiri.Dia sangat menyesal dengan apa yang ia perbuat selama ini. Dia tak tahu apa yang harus ia lakukan lagi selain berpasrah diri terhadap kenyataan yang ia peroleh.

Nila. Begitulah nama yang selalu dipanggilkan oleh teman-temannya.Ia sekolah di salah satu sekolah menengah umum terunggul.Ia seorang siswi yang sekarang berada dikelas unggulan.Ia adalah seorang siswi yang baik, ramah, dan suka menolong terhadap teman-temannya, gurunya, dan kakak kelasnya.

Pertama kali ia masuk dikelas tersebut ia merasa seperti orang asing yang baru menginjak Negara orang lain. Karena dikelas yang ia masuki tersebut belum ada seorang pun yang ia kenal, kecuali sahabatnya yaitu Rere. Rere adalah sahabat Nila yang sangat baik kepada Nila dan pintar. Ia berkenalan ketika ia bertemu pada masa orientasi siswa. Pada waktu itu ia satu gugus dan Rere melihat Nila sedang sendirian berbaris di belakang. Maka Rere menghampiri Nila yang sedang sendirian itu, dan disitulah terjalin persahabatan.

Pada saat pembagian kelas semester 1, Nila dan Rere berpisah kelas. Tetapi persahabtan mereka tersebut tidak pernah putus. Pada saat semester 2, barulah Nila dan Rere sekelas. Dikelas tersebut Nila yang kenal sebagai anak pemalu berubah menjadi anak yang selalu percaya diri dan periang. Dikelas tersebut Nila dan Rere mendapatkan seorang sahabat yang bernama Ira. Ira seorang siswi tomboy dan ia pun juga pintar. Mereka bertiga selalu bersama, kemanapun mereka pergi.

Pada saat proses belajar mengajar, Nila merasakan bahwa ia adalah siswa yang bodoh dikelas tersebut. Karena semua teman-teman Nila termasuk Rere sahabatnya semua pada memberikan argument ketika mereka semua dikelas sedang belajar sosiologi. Semua teman-teman Nila pintar memberikan argument. Hanya Nila saja yang tak dapat memberikan argument, ataupun pada waktu mereka diberikan pertanyaan, teman-teman Nila semua berlomba angkat tangan.

Nila telah merasakan betapa bodohnya dirinya ketika ia bergabung bersama teman-teman yang unggul. Nila menyesal berada di kelas tersebut. Ia menyesal karena ia tak rajin belajar untuk memperoleh sesuatu yang sangat berharga dihidupnya. Ia merasa malu berada dikelas tersebut, Ia malu kepada teman-temannya, dan terlebih lagi malu kepada orang tuanya dan diri Nila sendiri.

Nila tidak berniat untuk merugikan orang tuanya dan dirinya sendiri. Tetapi itulah akibat dari ia tidak pernah mendengarkan kata-kata nasihat orang tuanya. Ia selalu memasukkan nasihat tersebut ditelinga kanan dan keluar ditelinga kiri. Dan sekarangpun ia sangat menyesal dengan apa yang perbuat.

Tidak lama kemudian, sahabat Nila yaitu Rere dan Ira melihatnya sendirian melamun di taman sekolah, maka segera itu Rere dan Ira menghampiri Nila.

“Aduuuuh Nilaa….Kamu darimana aja sih? Kita cariin kamu sampai keliling sekolah nih.” Sapa Rere sambil memperlihatkan muka cemberut.

“Iya. Tak tahunya, eeeh kamu malah ada di sini Nil.”

“Eh, kamu jangan melamun dong apalagi kamu sendirian disini. Ntar kamu kesambet, tobat kamu.” Lanjut Ira.

Setelah mereka berbicara, Nila hanya menoleh dan menatap mereka sekejap dan kembali melamun. Dan tak lama kemudian, Nila tak sadarkan diri. Maka segera itulah Rere dan Ira kaget serta meminta pertolongan kepada teman-teman yang lain untuk membawa Nila ke UKS yang tak jauh dari taman tersebut.

Tak lama kemudian, Nila sadarkan diri. Wajah Nila tampak lesu dan pucat. Tak lama kemudian, Rere menanyakan kabar Nila.

“Nila…. Kamu gak apa-apa? Kamu tampak pucat dan lesu. Sebaiknya kamu pulang gak usah ikut pelajaran Bahasa Indonesia. Ntar kita minta tolong pada anak laki-lakinya untuk mengantarkanmu pulang dan kita akan memberimu izin kepada ibu guru.” Bujuk Rere.

“Gak usah. Aku baik-baik aja kok. Apalagi sebentar kita ada ulangan Bahasa Indonesia. Aku gak mau kalau aku ikut ulangan susulan.” Kata Nila meyakini Rere.

“Tapi kan sama saja, kalau kamu sakit mana bisa kamu berfikir La. Pokoknya kamu harus pulang.” Kata Ira

“Aduuh Rere dan Ira gak perlu khawatir yaah. Aku baik-baik aja koq. Lagipula aku sudah belajar” Kata Nila dengan tersenyum.

Tak lama kemudian Rere kembali bertanya kepada Nila.

“Nila, kamu tadi kok duduk sendirian di taman sambil melamun? Apa kamu ada masalah?”

Dengan cepat wajah Nila yang tadinya dipenuhi dengan senyuman langsung berubah sedih.

“ Kamu ada masalah yah La? Kalau ada masalah, kamu cerita dong sama kita-kita.siapa tahu kami bisa membantu.” Tambah Ira.

“Teman-teman aku sebenarnya sangat iri pada kalian. Kalian itu semua pintar-pintar, tidak kayak aku yang bodoh. Dan aku pun sangat menyesal sekali untuk tidak mematuhi nasihat orang tuaku. Aku dari dulu disuruh belajar dan jangan samapai lupa pelajaran apa yang aku telah pelajari sesudahnya, karena pelajaran aku tersebut itu akan selalu terbawa sampai di perguruan tinggi. Aku sangat malu pada diriku sendiri. Aku…Aku seperti anak yang tidak berguna” Tangis Nila

“Kamu jangan sedih begitu dong. Kalau kamu mengatakan begitu, maka kamu bukanlah Nila yang kami kenal. Nila yang kami kenal adalah anak yang tak pernah putus asa, dan tak pernah menyerah” Tegas Ira sambil memeluk Nila.

“ Iya. Sama saja itu artinya kamu menghipnotis diri kamu sendiri. Kamu harus optimis jangan membuat diri kamu down” Tambah Rere.

“ Kalau kamu telah sadar bahwa perbuatanmu telah salah, maka kamu harus fokus pada apa yang kamu inginkan. Dan rajin-rajinlah belajar. Jangan hanya mau belajar jika ada PR saja.Ok?”Kata Rere member semangat Nila.

“ Iya. Betul apa yang dibilang Rere. Nanti kita akan bantuin kamu kok. Betul kan Re?” Kata Ira.

“ Betul…Betul…Betul…”Kata Rere sambil tersenyum.

Dan pada saat itulah Nila bertekad untuk berubah dan Begitupun sahabat Nila, Mereka berusaha untuk membantu dan member semangat Nila untuk belajar.

Dan akhirnya Nila menulis pada buku diary miliknya

Dear Diary,

Saya ingin mengucapkan Thank You very much kepada sahabat yaitu Rere dan Ira yang telah banyak membantu Aku. Karena merekalah, Aku bisa berubah. Aku bisa menjadi diri Aku sendiri,dan Aku bisa percaya diri. Aku sekarang tahu betapa pentingnya mempunyai kalian. Betapa pentingnya kebersamaan bersama kalian. Kalian bagaikan malaikat yang selalu membantu aku, yang selalu memberiku semangat untuk BISA. Dan kali ini aku sudah tidak pernah sesali diriku sendiri pada kehidupan yang kujalani ini. I LOVE U.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar